Kajian Makna
A. Pengertian
Kajian Makna
Makna adalah setiap kalimat dalam bait
puisi mengndung makna tertentu; maksud pembicaraan atau tulisan (KBBI: 509).
Makna adalah bagian yang tidak terpisahkan dari nsemantik dan selalu melekat
dari apa saja yang kita tuturkan.
1. Kajian makna lazim disebut
“semantik” (Inggris: semantics).
2. Kata semantik berasal dari bahasa
Yunani semantikos artinya penting atau mengandung arti. Semantikos berasal dari
kata semainein
yang berarti menunjukkan atau menjelaskan tanda.
3.Tanda atau lambang ini dimaksudkan
sebagai tanda lingusitik (Perancis: signelinguistique).
4. Menurut
Ferdinand de Saussure (1916), tanda bahasa itu meliputi signifiant ‘penanda’
dan signifie ‘petanda’.
Istilah
makna (meaning) merupakan kata dan istilah yang membingungkan. Untuk mana di
perhitungkan sebagai istilah sebab bentuk ini mempunyai konsep dalam bidang
ilmu tertentu, yakni dalam bidang linguistik. Istilah makna meskipun
membingungkan, sebenarnya lebih dekat dengan kata. Sering kita berkata, apa
artinya kata ini, apakah artinya kalimat ini ? kalau seorang berkata, “Saya
akan beraangkat”, itu berarti bahwa ia siap berjalan, siap melaksanakan
kegiatan atau aktivitas pindah, pindah dari satu tempat ke tempat yang lain,
dengan jalan melaksanakan kegiatan berjalan.
Menurut de
Saussure, setiap tanda linguistik atau tanda bahasa terdiri dari 2 komponen,
yaitu komponen signifian (yang mengartikan) yang berwujud runtunan bunyi, dan
komponen signifie (yang diartikan) yang berwujud pengertian atau konsep (yang
dimiliki signifian). Menurut teori yang dikembangkan Ferdinand de Saussure,
makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada sebuah
tanda linguistik. Jika tanda linguistik tersebut disamakan identitasnya dengan
kata atau leksem, berarti makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki
oleh setiap kata atau leksem. Jika disamakan dengan morfem, maka makna adalah
pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap morfem, baik morfem dasar
maupun morfem afiks.
B. Pendekatan Makna
Makna dapat dibicarakan dari dua Pendekatan, yakni pendekatan analitik atau referensial dan Pendekatan operasional. Pendekatan analitik ingin mencari makna dengan mengguraikan atas segmen-segmen utama, sedangkan Pendekatan operasional ingin mempelajari kata dalam penggunaannya. Pendekatan operasional lebih menenkankan, bagaimana kata operasikan di dalam tindak fonasi sehari-hari.
Di depan telah dikatakan bahwa Pendekatan analitik ingin menguraikan makna
dengan jalan segmentasi. Ambillah contoh kata istri. Dilihat dari Pendekatan analitik, kata istri dapat di
uraikan menjadi:
-
Perempuan
-
Telah
bersuami
-
Kemungkinan
telah beranak
-
Manusia
-
Ramah-tamah
-
Berambut
panjang
-
Berfungsi
sebagai pendamping suami
-
Hak dan
kewajibannya tidak berada dengan hak dan kewajiban suami
Jika kata istri dilihat dari segi Pendekatan
operasional, akan terlihat dari kemungkinan-kemungkinan pemunculannya dalam
kalimat-kalimat, misalnya sebagai berikut:
-
Si Dula
mempunyai istri
-
Istri si Ali
telah meninggal
-
Banyak istri
yang bekerja di kantor
-
Apkah
istrimu sudah naik haji?
Tetapi tidak mungkin orang mengatakan :
-
Istri ali
berkaki tiga
-
Istri tidak
pernah melahirkan
Pendekatan makna yang akan
diungkapkan disini antara lain Pendekatan yang dikemukakan oleh
Wittgenstein (1953) adalah tokoh Pendekatan makna secara operasional
(Pendekatan yang dapat menentukan tepatnya makna sebuah kata, di dalam kalimat)
dalam bahasa Indonesia seperti pada:
(1)
anak-anak
pukul satu lekas pulang
pada (1) lekas maknanya sama (sinonim) dengan cepat melalui tes subtitusi
(penyulihan). Hal tersebut dibahas di dalam sinonim kata yang dapat saling
menyulih (sinonim mutlak). Pendekatan tersebut berbeda denga Pendekatan
operasional, yang mempelajari kata dalam penggunaannya, menekankan bagaimana
kata secara opersional (bandingkan dengan makna gramatikal). Dalam Pendekatan analitik makna ata dapat
dirinci, seperti pada kata bujang, secara analitik dapat dirinci sebagai
berikut:
bujang ----- + bernyawa
+ manusia
+ laki-laki
Secara operasional kata bujang dapat digunakan antara lain di dalam
kalimat:
1 bujang
lapuak
2 dia masih
bujang
C. Aspek-aspek
Makna
Pada bagian
ini akan dibahas :
1.
Pengertian
2.
Perasaan
3.
Nada
4.
Tujuan atau maksud
Keempat
aspek makna tersebut dapat dipertimbangkan melalui data bahasa Indonesia contoh
pemahaman makna tersebut. Pembahasan seperti ini jika kita melihat makna dari segi terujarnya kata-kata
pembicara kepada pendengar.
1.
Pengertian
Aspek makna pengertian ini dapat dicapai apabila antara pembicara/penulis
dan kawan bicara berbahasa sama. Pengertian disebut juga tema. Tiap hari orang
berbicara dan tiap hari kita
mendengarkan orang berbicara bahkan berbicara dengan kawan bicara kita.
Kalau antara pembicara dan pendengar
mempunyai kesamaan pengertian mengenai satuan-satuan ini, maka pendengar
mengerti apa yang kita maksudkan. Demikian
pula kalau kita mendengar orang berkata, “ rambut “ ujaran yang hanya
menggunakan satu kata ini menimbulkan Berbagai pengertian, misalnya:
a.
Rambutnya panjang sekali
b.
Rambutnya tidak panjang sekali
2.
Perasaan
Aspek makna perasaan berhubungan
dengan sikap pembicara dengan situasi pembicara. Didalam kehidupan
sehari-hari kita selalu berhubungan dengan perasaan (misalnya sedih, panas,
dingin, gembira, jengkel, gatal) dan untuk menggambarkan hal-hal yang
berhubungan dengan aspek perasaan tersebut, kita gunakan kata-kata yang sesuai.
Contoh:
a.
Buk anik
sangat sedih karena terjerat hutang lintah darat
b.
Terasa Panas
kali
3.
Nada
Aspek makna nada ini melibatkan pembicara untuk memilih kata-kata yang
sesuai dengan keadaan kawan bicara dan pembicara sendiri. Aspek makna yang
brhubungan dengan nada lebih banyak dinyatakan oleh hubungan antara pembicara
dengan pendengar, antara penulis dengan pembaca. Aspek makna nada berhubungan
puladengan aspek makna yang bernilai perasaan, bila jengkel maka sikap kita
akan berlainan dengan perasaan bergembira terhadap kawan berbicara. Contoh:
a.
Jahat kau?
b.
Nakal kau!
4.
Tujuan atau maksud
Aspek maksud menurut Shipley
merupakan maksud senang atau tidak senang, efek usaha keras yang dilaksanakan. Biasanya kalau kita menatakan suatu
memang ada maksud yang kita inginkan. Aspek makna tujuan ini adalah “his
aim, concious or unconscious, the effect is endeavouring to promite” (tujuan
atau maksud, baik disadari maupun tidak, akibat usaha dari peningkatan). Apa
yang kita ungkapkan di dalam makna aspek tujuan memiliki tujuan tertentu.
Aspek makna tujuan ini melibatkan klasifikasi
pernyataan yang bersifat:
1.
deklaramatif
2.
persuasif
3.
imperatif
4.
naratif
5.
politis
6.
paedagogis (pendidikan)
contoh:
a.
jangan lupa
bawa uang
b.
kemana
tujuan kita?
D. Jenis Makna
Kita ketahui bahwa kata memiliki makna kognitif, deskriptif), makna
konotatif, dan emotif. Kata dengan makna kognitif ditemukan dalam kehidupan
sehari-hari, dan kata kognitif ini sering dipakai dibidang teknik.
Satu kata dapat mamiliki makna kognitif saja atau satu kata memiliki baik
makna kognitif maupun makna konotatif atau makna emotif. Bandingkanlah kata sayur di dalam ekspresi berikut:
(a)
Rani makan
sayur bayam.
(b)
Makan sayur
itu sehat.
Makna
kognitif kita dapatkan pada (a), sdangkan pada (b) kita dapatkan makna
konotatif.
1.
Makna Sempit
Makna sempit (narrowed meaning) adalah makna yang lebih sempit dari
keseluruhan ujaran. Makna yang asalnya lebih luas dapat menyempit, karena
dibatasi. Perubahan makna suatu bentuk ujaran secara semantic berhubungan,
tetapi ada juga yang menduga bahwa perubahan terjadi dan seolah-olah bentuk
ujaran hanya menjadi objek yang relative permanen, makna hnya menempel seperti
satelit yang berubah-ubah.
Makna sempit biasa disebut khusus. Kalau seseorang mengujarkan “berikan
gudang garam padanya”, urutan kata gudang garam mengacu kepada rokok yang
berlebel gudang garam, rokok kretek yang bernama gudang garam. Berdasarkan
uraian ini tampak pada kita, makin luas unsure kata yang digunakan makin sempit
maknanya dan main sempit pula hal yang di acu.
Kata-kata bermakna luas di dalam bahasa Indonesia disebut juga makna
umum (generic) digunakan untuk
mengungkapkan gagasan atau ide yang umum. Gagasan atau ide yang umum bila
dibubuhi rincian gagasan atau ide, maka maknanya akan menyempit (memiliki makna
sempit). Bandingkanlah contoh berikut:
(a)
Dunia dengan kehidupan
manusia
(b)
Kue dengan kue bolu
(c)
Lari dengan lari laju
Lari lambat
Dengan demikian untuk mempersempit makna, kita harus memperluas unsur kata.
Makin luas kata yang digunakan, makin sempit makna yang dicakupinya.
2.
Makna Luas
Makna luas (extended meaning) menunjukkan bahwa makna yang terkandung pada
sebuah kata lebih luas dari yang dipertimbangkan. Sebenarnya kalau
dipikir-pikir, semua kata yang tergolong kata yang berkonsep, dapat dikatakan
memiliki makna luas. Makna luas adalah makna yang terkandung pada sebuah kata
lebih luas dari yang diperkirakan. Kata-kata yang berkonsep memiliki makna luas
dapat muncul dari makna yang sempit. Bandingkanlah contoh berikut:
Bahasa
Indonesia
Membaca dengan al-qur’an
Awas dengan
menghindar
Kata-kata yang memiliki makna luas digunakan untuk mengungkapkan gagasan
atau ide yang umum, sedangkan makna sempit adalah kata yang bermakna khusus
atau kata-kata yang bermakna luas denganunsur pembatas. Kata-kata yang bermakna
sempit digunakan untuk menyatakan seluk-beluk atau rincian gagasan (ide) yang
bersifat umum.
3. Makna
kognitif
Makna kognitif disebut juga makna deskriptif atau denotative adalahmakna
yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan (bandingkanlah
dengan makna konotatif dan emotif). Makna kognitif adalah makna lugas, makna
apa adanya. Makna kognitif sering digunakan di dalam istilah teknik. Makna
kognitif adalah makna sebenarnya, bukan makna kiasan atau perumpamaan.
Makna kognitif adalah makna
yang ditujukkan oleh acuannya, makna unsur bahasa yang sangat dekat hubungannya
dengan dunia luar bahasa, objek atau gagasan, dan dapat dijelaskan berdasarkan
anaalisis komponennya.
4.
Makna konotatif dan emotif
Makna kontatif yang dibedakan dari makna emotif karena yang disebut pertama
bersifat negative dan disebut kemudian bersifat positif. Makna konotatif adalah
makna yang muncul dari makna kognitif (lewat makna kognitif), kedalam makna
kognitif tersebut ditambahkan komponen makna lain. Makna konotatif (connotative
meaning) muncul sebagai akibat asosiasi perasaan pemakai bahasa terhadap kata
yang didengar atau kata yang dibaca.
Dengan demikian makna konotatif lebih berhubungan engan nilai rasa pemakai
bahasa, apakah perasaan senang, jengkel, gembira, atau jijik. Itu sebabnya
orang sering mengatakan kata X mengandung makna konotatif yang lain dalam
bahasa daerah saya.
Makna emotif adalah makna yang melibatkan perasaan (pembicara dan
pendengar; penulis dan pembaca) kea rah yang positif. Makna emotif (emotive
meaning) adalah makna yang timbul akibat adanya reaksi pembicara atau sikap
pembicara mengenai/terhadap apa yang dipikirkan tau dirasakan (Shipley,
1962:261). Suatu kata dapat memiliki makna emotif dan bebas dari makna
kognitif, atau dua kata dapat memiliki kognitif yang sama, tetapi kedua kata
tersebut dapat memiliki makna emotif berbeda.
E. Tipe Makna
Tipe makna adalah kajian makna berdasarkan tipenya. Tipe adalah
pengelompokkan sesuatu berdasarkan kesamaan objek, kesamaan cri atau sifat yang
dimiliki benda, hal, peristiwa atau aktivitas lainnya. Makna konseptual ini
bersifat logis, kognitif, atau denotative. Makna asosiatif yang dibagi lagi
atas makna konotatif yakni makna yang muncul dibalik makna .
Makna stilistika adalah makna yang melibatkan situasi sosial (misalnya
lafal akhiran-kan di dalam bahasa Indonesia atau darpada sebagai pengganti
posesif yang Ø); makna afektif adalah makna yang melibatkan perasaan dan sikap pembicara
atau penulis.
E. Stilistika
dan Majas
Makna stilistika (bhs. Inggris: stylistic meaning) adalah makna yang
berhubungan dengan situasi sosial para penutur bahasa. Makna stilistika adalah makna yang timbul akibat
pemakaian bahasa. Makna stilistika berhubungan dengan pemakaian bahasa yang
menimbulkan efek terutama kepada pembaca. Makna stilistika lebih dirasakan di
dalam karya sastra.
Makna stilistika (Belanda : stilistische betekenis)
adalah makna yang timbul akibat pemakaian bahasa. Kita dapat menjelaskan makna
stilistika melalui Berbagai dimensi dan tingkatan pemakaian bahasa. Makna
stilistika berhubungan pemakaian bahsa yang menimbulkan efek, terutama kepada
pembaca. Itu sebabnya makna stilistika lebih dalam karya sastra.
Jenis majas yang terpenting adalah: (1) majas
perbandingan, (2) najas pertentangan, (3) majas pertautan.
1.
Perbandingan:
a.
Perumpamaan
adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berlainan dan yang dengan
sengaja kita anggap sama.
b.
Kiasan
atau metaphor ialah perbandingan yang implicit-jadi tanpa kata seperti atau
sebagai – di antara dua hal yang berbeda.
c.
Penginsanan
atau personifikasi ialah jenis majas yang melekatkan sifat-sifat insane kepada
barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak.
2.
Pertentangan:
a.
Hiperbol
ialah ungkap yang melebih-lebihkan apa yang sebenarnya dimaksudkan: jumlahnya,
ukurannya, atau sifatnya.
b.
Ironi
ialah majas yang menyatakan makna yang bertentangan,
F.
Aspek,
Kala, Nomina, Temporal, dan Modus
Kala (tense) merupakan salah
satu cara untuk menyatakan temporal deiktis melalui perubahan kategori gramatikal
verba berdasarkan waktu.
1.
Aspek
Aspek adalah cara memandang
struktur temporal intern suatu situasi (Comrie,
1976:3). Sedangkan modus, menyangkut
masalah sikap pembicara, antara lain modus indikatif, subjungtif, imperatif,
dan sebagaimya. Aspek terbagi atas: (1) aspek perfektif, (2) aspek imperfektif
2.
Kala dan
Nomina Temporal
Kala (tense) adalah suatu
cara untuk menyatakan temporal deiktis di samping nomina temporal, seperti sekarang, baru-baru ini, segera, hari ini,
kemarin.
3.
Aspek ,
Kala, dan Nomina
Keaspekan, kala, dan NTE
berbeda dalam hal: aspek berhubungan erat dengan macam perbuatan (situasi),
tidak mempersoalkan tempatnya di dalam waktu, sedangkan kala dan NTE
menunjukkan terjadinya suatu perbuatan
4.
Modus
Modus adalah istilah
linguistik yang menyatakan makna verba mengungkapkan suasana kejiwaan
sehubungan dengan perbuatan menurut tafsiran pembicara atau sikap pembicara
mengenai apa yang di ucapkannya.
5.
Modalitas
dan Keaspekan sebagai Komponen Ketransitifan
Parameter yang digunakan Hopper dan Thompson untuk mengukur ketransitifan sebuah verba adalah:
partisipan, kinesia, keaspekan, pungtualitas, kesengajaan, pengukuhan,
modalitas, peran pelaku, akibat, dan pengkhususan.
6.
Deiksis
(penunjukan)
Deiksis adalah lokasi dan
identifikasi orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang sedang
dibicarakan dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat
dituturkan oleh pembicaraatau yang diajak bicara (Lyons, 1977:637).
Penunjukan dapat berupa: 1) pronomina orang, 2) nama diri, 3) pronomina
demonstratif, 4) kala, 5) keaspekan ciri gramatikal atau leksikal waktu.
DAFTAR
PUSTAKA
Pateda,Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta : Rineka Cipta.
Djajasudarma,T Fatimah. 2009. Semantik 2. Bandung
: Refika
Aditama.
Keterkaitanya dengan Jenis-jenis Makna.
http//:www.google.com.
Chaer,
Abdul. 2002. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
Ullmann, Stephen. 2007. Pengantar Semantik. Yogjakarta : Pustaka Pelajar
Parera, J. D. 2004. Teori Semantik
Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga.
Tarigan,Henry Guntur. 2009. Pengajaran Semantik. Bandung : Angkasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar